Categories
Pendidikan

Analisis Potensi Kebangkrutan

Analisis Potensi Kebangkrutan

Analisis Potensi Kebangkrutan

Pengertian Bangkrut

Bangkrut adalah keadaan atau situasi dimana perusahaan mengalami kekurangan dan ketidakcukupan dana untuk menjalankan atau melanjutkan usahanya. Kebangkrutan akan cepat terjadi pada perusahaan yang berada di negara yang sedang mengalami kesulitan ekonomi, karena kesulitan ekonomi akan memicu semakin cepatnya kebangkrutan perusahaan yang mungkin tadinya sudah sakit kemudian tambah sakit dan bangkrut. Selain kesulitan ekonomi, pemacu kebangkrutan dapat berasal dari adanya permasalahan yang timbul mempengaruhi operasi utama dari perusahaan seperti kekurangan bahan baku.

Pada umumnya, jauh sebelum perusahaan mengalami kebangkrutan, tanda-tanda awal yang menunjuk ke arah kecenderungan yang kurang menguntungkan akan muncul. Akan tetapi, seringkali manajemen menganggap bahwa tanda-tanda yang menunjukkan ketidaksehatan perusahaan merupakan gejala sementara yang diperkirakan akan hilang sendirinya tanpa perlu ada intervensi manajemen. Anggapan ini mengakibatkan pihak manajemen terlambat melakukan tindakan antisipasi proses perbaikan terhadap kinerja perusahaan.

 

Faktor – Faktor Kebangkrutan :

Sistem pereko nomian Di dalam sistem perekonomian dimana roda perekonomian lebih banyak dikendalikan oleh persaingan bebas, sehingga untuk perusahaan yang tidak mempunyai kemampuan menghadapi persaingan akan lebih cepat menghadapi kebangkrutan.
Faktor-faktor ekstern perusahaan. Kecelakaan dan bencana alam yang sewaktu-waktu menimpa perusahaan misalnya, merupakan contoh yang barangkali pernah atau bahkan sering memaksa perusahaan untuk menutup atau menghentikan usahanya secara permanen.
Faktor-faktor intern perusahaan. Faktor intern biasanya merupakan hasil dari keputusan dan kebijaksanaan yang tidak tepat di masa yang lalu dan kegagalan manajemen untuk berbuat sesuatu pada saat yang diperlukan. Berbagai faktor internal tersebut adalah terlalu besarnya pinjaman/kredit yang diberikan kepada debitur, manajemen yang tidak efisien, kekurangan modal, penyalahgunaan wewenang dan kecurangan- kecurangan.Tahap permulaan perusahaan yang akan mengalami kebangkrutan ditandai oleh adanya satu atau lebih keadaan operasi dan finansial perusahaan yang tidak menggembirakan, misalnya:

  • Penurunan volume penjualan.
  • Kenaikan biaya-biaya komersial dan financial
  • Ketidakefisienan produksi
  • Tingkat persaingan yang semakin ketat
  • Kegagalan dalam melaksanakan ekspansiKeadaan-keadaan di atas diikuti dengan kesulitan likuiditas, dan kesulitan likuiditas tidak segera diatasi, maka hal tersebut akan mengancam solvabilitas yang berdampak pada kebangkrutan perusahaan.
  • Prediksi Kebangkrutan dengan Metode Altman Edward.L.Altman merumuska n formula Z-score yang secara umum dapat untuk mengukur kesehatan keuangan suatu perusahaan pada tahun 1968.

 

Tingkatan Nilai Z-score dalam perusahaan manufaktur , yaitu :

  • Untuk nilai Z- score lebih kecil atau sama dengan 1,88 (Z-score ≤1,88), berarti perusahaan mengalami kesulitan keuangan dan resiko tinggi.
  • Apabila diperoleh nilai Z-score antara 1,88 sampai 2,99 (1,88 < Z-score ≤ 2,99), perusahaan dianggap berada pada daerah abu-abu (grey area). Pada kondisi ini perusahaan mengalami masalah keuangan yang harus ditangani dengan penanganan manajemen yang tepat.
  • Untuk nilai Z-score lebih besar dari 2,99 (Z-score >2,99) memberikan penilaian bahwa perusahaan berada dalam keadaan yang sangat sehat. Prediksi kebangkrutan yang diformulasikan Altman dalam bentuk persamaan Zscore:Z = 1,717X1+ 1,4X2+ 3,3X3+ 0,6X4+ 0,999X5Rasio-rasio yang ada dalam formula tersebut,terdiri dari :

Working Capital / Total Assets(X1) Merupakan rasio yang mendeteksi likuiditas dari total aktiva dan posisi modal kerja. Indikator untuk mendeteksi adanya masalah pada tingkat likuiditas perusahaan. adalah indikator-indikator interna l, seperti kekurangan kas, besarnya utang dagang, utilisasi modal (harta kekayaan), tingginya hutang yang tidak terkendali dan beberapa indikator lainnya.
Retairned Earnings / Total Assets(X2) Merupakan rasio untuk mengukur besarnya kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan keuntungan, ditinjau dari kemampuan perusahaan yang bersangkutan dalam memperoleh laba.
Earning Before Interest and Taxes / Total Assets(X3) Merupakan rasio yang mengukur kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi semua investor. Indikator masalah kemampuan profitabilitas perusahaan adalah tingginya piutang dagang, tingkat penjualan yang rendah, besarnya persediaan, rendahnya perputaran piutang, kecilnya kredibilitas perusahaan.
Market Value of Equity / Book Value of Total Liabilities(X4) Merupakan rasio aktivitas yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memberikan jaminan kepada setiap utangnya melalui modal sendiri.
Sales / Total Assets(X5) Merupakan rasio aktivitas juga yang mendeteksi kemampuan dana perusahaan yang tertanam dalam keseluruhan aktiva berputar dalam satu periode tertentu.

 

Sumber : https://sarjanaekonomi.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *